Aku Hanya Seorang Manusia

 


Saatnya mengucapkan selamat tinggal,

 Manusia ditakdirkan untuk hidup. Hidup berarti dapat berlari dan merasakan suasana yang terdapat jiwa dan tersenyum serta tertawa di rumput yang tersapu dan matahari bersama orang-orang di sekitar.

 

 Setelah kecelakaan yang membuatnya tidak bisa berjalan, dia harus berbaring di ranjang rumah sakit, menerima perawatan tanpa akhir untuk merasakan komplikasi yang tak ada habisnya.

 

 Dia tidak membutuhkan tes atau laporan dokter. Dia bisa merasakan dirinya sekarat. Setiap hari dia melihat matahari dan bulan bertukar tempat di jendela seberang ruangan, dia merasa dirinya sekarat.

 

 Para dokter memberitahunya waktunya sudah tidak lama lagi. sebenarnya dia itu telah menerima kondisinya jauh sebelum pemberitahuan dokter. Dia tidak memiliki orang yang bisa menghubunginya. Keluarganya ada di luar kota dan teman-temannya tidak bisa meluangkan waktu karena mereka sibuk menentukan masa depannya sendiri.

 

 Dia menulis di waktu luangnya. Memori dan kenangan. Keinginan, penyesalan. Surat untuk keluarga dan teman. Ada yang dikirim, ada yang diterima, ada yang tidak pernah sampai ke kantor pos dan malah berbaring di keranjang sampah. Guratan pena tampaknya menembus jiwanya, menunjukkan  kesendiriannya. 


   Dia berharap dia melakukan banyak hal yang berbeda. Bisakah dia melakukan lebih banyak dalam hidupnya, lebih banyak tertawa, menari, menangis, melihat, dan merasakan hal-hal di sekitarnya? Mungkin. "Mungkin" bisiknya.


  Dia hanya punya waktu beberapa jam lagi. Ini jam lima sore. Dia bisa menyaksikan matahari terbenam untuk terakhir kalinya.


 Manusia ditakdirkan untuk hidup. Hidup berarti dapat berlari dan merasakan suasana yang terdapat jiwa dan tersenyum serta tertawa  bersama orang-orang di sekitar.

 

 Dia hanya ingin tersenyum. Dia ingin pergi dengan bahagia. Tapi dia tidak bisa. Dia hanya bisa meneteskan air mata saat dia menyelinap pergi dari kamar nya yang sepi, ditemani matahari yang sekarat bersamanya, sekarat di langit dengan darah yang keluar. Para perawat mulai berbisik dengan panik, bergegas menyelamatkan. 

 

 Dia sudah tidak mendengar suara orang orang lagi, Dan sebenarnya dia merasa tidak perlu lagi. Para perawat berhenti berlari dan tetap di sisinya, mencoba menawarkan kebohongan  yang  mereka sendiripun  tahu  dia hanya akan bertahan beberapa saat lagi. dia juga mengtahui dia sering diperlakukan seperti itu, Mengapa dia menangis jika itu terjadi? Tapi  menurutnya dia sekarat itu sama saja.


Dia hanya menerimanya. Dan di saat-saat terakhirnya, terlepas dari keinginannya. Dia ini, tidak lagi bisa berlari dan merasakan sesuatu dan tidak bisalagi tersenyum dan tertawa bersama orang-orang di sekitarnya, dia bukan lagi manusia.


Dia ingin dikenang sebagai orang yang dapat dikenang. Dan dia berharap keinginan yang satu ini dikabulkan. Harapanya pada kata-kata yang dia tulis , memori terakhir dari dirinya. Dia ingin orang yang dia cintai tahu. Meskipun mereka tidak bisa berada di sana, dia tidak marah. Dia hanya lelah dan sakit hati. Bagaimanapun, dia adalah manusia.

Pages