Diary - 29 November 2020

Ahad  29 November 2020, Hari diawali dengan perbicangan sederhana dengan ibuku, Meski hari ini hari libur bagi sebagian orang akan tetapi seperti biasa aku merayu dihari ahad sambil meminta izin ibuku agar aku diizinkan untuk mengaji dari pagi sampai malam. yah wajarlah seorang ibu khawatir walaupun anaknya sudah besar akan tetapi naluri seorang ibu tetap mengganggap aku sebagai anak kecil.

 

Waktu berlalu dan angka sudah menunjukan jam 08.00, Aku membuka handphone untuk mengirim pesan pada grup remaja untuk segera mengajak bergegas mengikuti dauroh.

 

"Assalamualaikum, Aya nu bade ngiring dauroh sareng halaqah? " Ku mengirim pesan dengan keadaan terburu buru karena acara di mulai jam 09.00

 

"Saya Moal Euy šŸ™šŸ™" Temanku bernama Fajar merespon pesanku.

 

"Hmm lagi?" Ku bergumam dalam hati mungkin dia sibuk akhir akhir ini.

 

"Iya siap nu bade di tunggu weh nya di Masjid Al Furqon" Respon ku untuk mengakhiri percakapan.

 

Seperti biasa aku berangkat 30 menit sebelum acara dimulai untuk memastikan agar tidak terlambat di acara , ya walaupun dekat aku lebih baik tidak terlambat, sudah kupersiapkan peralatan darimulai alat tulis kitab kitab dan juga kopiah yang selalu aku pakai. Sebelum ku berangkat aku pastikan motor ku sudah aman untuk dikendarai agar tidak terjadi apa apa dijalan.


Sesampainya aku tiba di Masjid aku disambut oleh satu sahabatku bernama Ridho dan juga guru saya.

 

"Assalamuaikum dho , Assalamualaikum Ustadz" Sambil berjabat tangan. (Sebelum Masuk saya mencuci tangan terlbih dahulu yang telah disiapkan di masjid agar mencegah menyebar penyakit si covid)

 

"Wa'alaykum salam, Antum baru datang kim?" Jawab guruku sambil tersenyum.

 

" Iya ustadz, saya telat ya?" ku menjawab dengan rasa ragu.


"Nggak kok Insya Allah baru mau dimulai" Jawab guruku sambil menepuk bahuku.


Selepas aku mengobrol dengan guruku aku mencari tempat duduk di masjid agar bisa fokus untuk memperhatikan materi  yang disampaikan para Asatidz. Seperti biasa materi yang mereka sampaikan sangat luar biasa mind blowwing. Karena aku rasa penyampain materinya penuh dengan penjiwaan dan ke hati hati an.


Time Skip Shalat Maghrib.



Waktu berlalu, Acara berakhit dan Ba'da Maghrib ketika akan berangkat untuk pulang ke rumah ternyata hujan. Berhubung aku males pake jas hujan, jadilah aku ngobrol bersama dua guru dan satu sahabatku yang tadi siang mengikuti acara dauroh dan halaqah yang sama.

 

Guruku Ustadz Cecep tiba tiba bertanya kepada aku dan ridho , "kalian sudah siap untuk di ta'arufkan?" Sontak  aku kaget dengan pertanyaan aneh itu.

Aku menjawab dengan cepat " Maaf ustadz rasanya saya masih ingin menuntut ilmu ketimbang ta'aruf an"

 

Guruku tersenyum dengan jawabanku, sambil tertawa kecil. 


Guruku satunya Ustadz Hasyim menghampiri tiba tiba lalu memberi salam " Assalamualaikum , Karim gimana kabarnya?"

 

"Alhamdulilah baik Ustadz , gimana kabar ustadz?" Ku jawab dengan malu.

 

"Alhamdulillah baik" jawab ustadz hasyim

 

"Jadi kapan karim nikah?" Tiba tiba bertanya sambil tersenyum.


Aku hanya bisa tersenyum karena aku tau para Asatidz selalu membuat lelucon tentang pernikahan atau mungkin mereka memang menyarankanku untuk menikah muda karena untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan. Ntahlah mungkin aku tak mau berpikir terlalu jauh tentang itu.

 

Panjang lebar mengobrol dengan ustadz hasyim, beliau bercerita tentang pernikahan nya yang penuh perjuangan, Karena ya pernikahan islami memang belum lumrah dikalangan masyarakat. Beliau selalu mendapat cobaan ketika prosesn untuk menuju pernikahan , seperti mertuanya yang kurang menyutujui dengan pemisahan tamu laki laki dan perempuan , Tamu yang marah dan pulang ketika disuruh dipisah, hingga tragedi lainya yang aku nggak bisa sebut satu satu.

 

Aku malah kepikiran bahwa mungkin aku juga akan mengalami yang sama dengan ustadz hasyim, dimana aku akan menghadapi adat istiadat yang berlaku didalam masyatakat yang mungkin belum mengerti tentang penting nya menjalankan syariat didalam pernikahan. Aku tak mau pernikahanku menjadi ladang dosa bagi keluarga masa depanku nanti.

 

 Setelah perbincangan berakhir, Aku putuskan untuk pulang karena hujan sudah berhenti, aku berpamitan kepada para asatidz dan sobatku untuk izin pulang lebih dulu.


NGeeng ~


Sampai dirumah aku merasa sesak dada, dan sedikit pusing sampai aku tulis diary ini aku masih merasakan sesak dan pusing. Mungkin aku butuh sedikit istirahat.

 

 

Aku mungkin akan menulis diary lagi secara rutin.



Tertanda Nurkarim.

 

 





 

 


Pages