Dua hari lalu saya menemukan postingan di facebook dimana si penulis postingan ini mengkritisi kebijakan pemerintah yang carut marut dalam menghadapi pandemi Covid 19 , di dalam komentar banyak sekali yang menghujat dia karena postingan nya tersebut, mereka beralasan bahwa si penulis tidak bersyukur hidup di negara aman seperti negara Indonesia.
Yang saya perhatikan disini adalah bukan mengenai isi dari postingan tersebut akan tetapi kita akan bahas disini adalah komen yang mewakili judul ini yaitu "Mengapa orang indonesia gampang marah di sosial media" yang saya kupas ya karena saya penasaran aja.
Perundungan atau Bullying menurut KBBI adalah pengusikan atau kita dapat definisikan perundungan adalah proses, cara, perbuatan yang dapat diartikan sebagai seseorang yang menggunakan kekuatan untuk menyakiti atau mengintimidasi orang-orang yang lebih lemah darinya.
Bullying di sosial media sekarang adalah masalah yang paling kentara atau terlihat di indonesia , kita bisa lihat di akun akun orang , banyak orang yang tidak kenal atau tidak punya urusan apa apa tiba tiba langsung berkomentar dengan umpatan umpatan yang kasar , lalau timbul pertanyaan kenapa orang indonesia pekat sekali dengan bullying terutama di sosial media? apakah kita kehilangan budaya santun kita?
Sebenarnya sih ada masalah tentang pertanyaan ini yang pertama, ini bukan saja terjadi hanya di indonesia ini terjadi bahkan di seluruh dunia, yang pernah saya ketahui adalah Netizen korea selatan lah juaranya dalam membully dan mengelurkan umpatan umpatan sadis di sosial media. Yang kedua, Ini tidak berpengaruh terhadap budaya santun kita yang sudah tertanam.sejak dulu akan tetapi ada masalah yang sebenarnya belum pernah kita hadapi sebelumnya.
Sebelum membahas lebih jauh mari kita bahas ini tentang komunikasi , dasar dari semua hal tadi. Komunikasi di bagi menjadi dua yaitu Komunikasi Verbal dan Non Verbal. Apa bedanya kim? Jadi Komunikasi verbal mah langsung pake lambeyan, sedangkan komunikasi Non Verbal mah biasanya tidak langsung seperti pake gesture, begitulah singkat nya.😂😂
Di dalam dunia psikologi dijelaskan bahwa manusia menggunakan komunikasi verbal tidak sampai 50% dari komunikasi yang sesungguhnya antar manusia dengan manusia yang lain, komunikasi lain seperti gesture , komunikasi budaya , dan lain sebagainya itulah yang membuat komunikasi kita sedikit lebih lancar.
Tahukah kamu ? Bahwa komunikasi yang kita kenal ini adalah hasil adaptasi ratusan ribu tahun. Orang zaman dulu atau kita bisa nenek moyang kita membangun hasil komunikasi seperti sekarang ini adalah hasil adaptasi beribu ribu taun, dari mulai cuman gestur , bilang " huhu haha" sampai kita sedikit lancar seperti ini.
Akan tetapi gaya komunikasi sekarang tidak sama sekali mengantisipasi komunikasi di sosial media , media sosial yang dikenal sampai saat ini baru berumur sekitar 20 tahunan. sedangkan seperti yang saya paparkan tadi nenek moyang kita dapat mengapdatasikan komunikasi ini hasil adaptasi ratusan ribu tahun.
Jadi sebenarnya kita ketika berkomunikasi dalam bersosial media adalah berkomunikasi seperti layaknya Mahluk baru. Yang komunikasi nya tidak bisa di antispasi sebelumnya, inilah sebabnya kita sekarang gagal dalam berkomunikasi.
Sekarang mari kita lihat gagasan dari Filsuf Prancis bernama Jacques Derrida, Menurut dia Komunikasi zaman sekarang menghasilkan banyak kesalah pahaman yang dimana itu dapat menyebabkan konflik di masyarakat. Coba bayangkan , hasil komunikasi adaptasi ratusan ribu tahun pun masih menghasilkan komunikasi yang salah apalagi di media sosial.
Buat kamu yang pernah punya pacar atau pun sahabat pasti pernahkan ribut gara gara chattingan? tapi pas ketemuan kemarahan itu luntur , ayo ngaku? itu disebabkan karena komunikasi di dunia maya itu sangatlah berbeda dengan komunikasi secara langsung. Jadi sekali lagi ini tidak ada keterkaitannya dengan budaya santun kita tetapi ini adalah dampak gagal nya komunikasi yang kita bangun karena komunikasi kita tidak dapat mengatisipasinya.
Ada beberapa faktor tentang kegagalan manusia dalam mengantisipasi komunikasi ini, saya akan mengambil teori dari sigmend fred (gini ya nulisnya?) dia adalah seorang pendiri aliran psychoanalisis atau mungkin dikenal sebagai filsuf . Jadi menurut dia, manusia menghadapi 3 konflik internal ketika berkomunikasi.
ID
Adalah Kemampuan manusia dalam mempertahankan diri atau mungkin dalam islam dapat dikategorikan sebagai Gharizatun Baqa yaitu Naluri dalam mempertahankan diri. Ketika kita berkomunikasi dengan seseorang yang belum dikenal ataupun yang dikenal di sosial media kita akan cenderung mempertimbangkan apakah kita aman ketika berkomunikasi dengan orang yang bersangkutan atau tidak.
EGO
Ego, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan id. Ego juga ditafsirkan sebagai nafsu untuk memenuhi nafsu. Hanya saja telah ada kontrol dari manusia itu sendiri. Sudah ada pertimbangan, dan telah memikirkan akibat dari yang telah dilakukannya. Tepatnya, ego adalah pengontrol id. Contoh saat berkomunikasi kita akan mempertimbangkan manfaat saat berkomunikasi dalam bersosial media.
SUPER EGO
Superego, atau yang lebih sering di sebut dengan hati nurani. Pembentukan dan perkembangan superego sangat ditentukan oleh pengarahan atau bimbingan lingkungan sejak usia dini. Pokoknya hal ini berkaitan dengan moral dan lain sebagainya. Contoh nya apakah kita memberikan manfaat dalam bersosial media, apakah kita bisa membantu dalam bersosial media , dan lain sabagainya.
Itulah pertimbangan manusia dalam berkomunikasi baik di sosial media maupun di dunia nyata.
Itu kita dapat buktikan ketika seseorang bertemu dengan pejabat daerah atau orang terkenal , dia akan cenderung santun dan menghormati pejabat tersebut, karena apa? karena dia mempertahankan dirinya sendiri, tentu saja itu karena pejabat mempunyai kekuasaan lebih besar dari pada orang tadi. akan tetapi ketika di sosial media kita akan kehilangan hal itu karena kita merasa diri kita aman di bawah akun anonim.
Dengan adanya rasa aman dibawah akun anonim maka kita telah kehilangan ID kita sendiri. Jadi ketika bersosial media kita hanya menerima hal yang rasional dan hal hal yang berkaitan dengan moralitas. Selain itu sosial media juga menawarkan kita jarak dan wajah palsu yang dampaknya pasti kita tidak akan memperdulikan cercaan moral dan fisik.
Saya ketika bersosial media atau membuat facebook saya paling tidak menupload foto untuk di jadikan sebagai profile ya walaupun saya jarang mengupload wajah secara keseluruhan akan tetapi orang orang akan tau ketika melihat proporsi tubuh saya , itu artinya saya bertanggung jawab ketika bersosial media ya kan? 😎
akan tetapi orang diluarsana banyak yang tidak menampakkan wajah aslinya dengan berbagai alasan. jadi saat bersosial media ini butuh waktu yang lama dan biaya tinggi untuk hanya menemukan identitas seseorang dan tanggung jawab nya saat bersosial media. Semua orang tau akan hal itu , jadi tidak aneh ketika melihat orang kasar kasaran di sosial media, karena dia merasa tidak bertanggung jawab atas perkataan nya tersebut.