Seringkah kamu mengomentari diri sendiri dengan kalimat-kalimat negatif ketika membuat kesalahan? Kata hati yang menghakimi cenderung muncul ketika kita tidak punya cukup cinta bagi diri sendiri. Cinta diri itu bukan narsisisme menganggap diri paling benar, paling hebat, dan sejumlah paling lainnya. Orang narsis biasanya egois, congkak, dan rakus perhatian.
Berbeda dengan mencintai diri sendiri Mencintai diri sendiri tentu saja bukanlah hal yang egois. Ini adalah bagian dalam diri kita yang prosesnya melibatkan orang lain dan akan terus selamanya demikian karena kita juga menerima cinta dan membagikannya untuk orang lain. Orang yang cinta diri adalah dia yang bisa menghargai diri sendiri sehingga menjadi individu yang baik bagi diri sendiri dan orang lan. Orang yang cinta diri adalah dia yang bisa bersahabat dengan diri sendiri. Cinta diri kerap dipandang sebelah mata, padahal cinta diri sangat berpengaruh pada kehidupan kita sehari-hari.
Seseorang yang tidak cinta diri ketika melakukan kesalahan kecil kerap mencambuk dirinya dengan komentar negatif terus menerus hingga menggerus harga diri
Hal ini yang terjadi pada diri saya ketika saya masih mempunyai pikiran yang terus mencambuk. Saya selalu mencambuk diri saya dengan kalimat kalimat negatif.
Kadang saya merasa geram atas segala ketidak mampuan, kadang saya geram atas setiap kesalahan yang saya perbuat , dan kadang saya marah ketika tidak bisa melakukan suatu hal dengan baik.
Tapi ternyata itu salah, Itu tanda nya saya bukan orang yang bersyukur dan cenderung kufur nikmat, saya jadi ingat penggalan Surah Ar rahman yang berbunyi " Nikmat manakah yang kamu dustakan?"
Allah telah berikan saya fisik yang sehat bukan untuk saya caci maki tetapi agar saya bisa bersyukur lebih, agar saya bisa mencintai diri saya sendiri bukan hanya fisik dan juga mental. Semakin kita mencintai diri, kita akan lebih memperhatikan diri sendiri dan membekalinya dengan sesuatu yang positif.
Setelah mampu mencintai diri sendiri juga ada upaya lain, yakni diimbangi dengan sesuatu yang objektif. Maka mencintai diri sendiri itu resep nya akan terus berubah dan terus dicari. Setiap punya peran dalam hidup yang berubah pasti perlu penyesuaian lagi. Misalnya saja, cinta diri pada saat masih single atau masih di usia sekolah tentu akan berbeda saat sudah bekerja bukan?
Selain tuntutan nya berubah juga cara menghadiahi atau me reward diri kita juga akan berubah. Mungkin saat masih muda, kita bisa bermain sama teman-teman saja sudah senang, tapi di tahap kehidupan yang lain semua sudah berubah. Dulu mungkin mau main-main setiap hari sebagai bagian dari mencintai diri sendiri dengan cara bersenang-senang tiap malam ke warnet, tidak mudah lelah dan paginya bisa langsung beraktifitas. Tetapi semakin dewasa, saat bekerja sudah tidak sama seperti dulu lagi.
Kemudian, apakah kita sebaiknya mencintai diri sendiri? Jawabannya, iya. Dengan menerima diri dan mencintai diri sendiri, maka kita akan dengan mudah mencintai orang lain. Buat saya inilah alasan yang paling masuk akal. Bagaimana mungkin kalau kita tidak happy dan tidak cinta tapi kemudian bisa memberikan kebahagiaan dan cinta untuk orang lain? Kalaupun bisa, saya yakin itu semu.
Mencintai diri sendiri itu rasanya sangat nyaman sekali; tidak berkonflik, tidak denial dengan apa yang kita punya atau bahkan yang tidak kita punya. Terbayang tidak, kalau pagi-pagi kita bangun sudah berkonflik dengan diri sendiri. Saat kita menerima, mencintai, dan tidak denial, maka konflik akan menghilang. Rasanya akan sangat berbeda bahagia selalu.
Ada kisah juga saat saya sekolah yang terkait fisik. Di masa kini orang menyebutnya dengan verbal bullying. Saat itu saya dibilang nonghol , ceking memang iya sih, itu fakta. Tapi mereka yang melontarkan fakta itu juga tidak sempurna-sempurna amat. Hal lain saat itu, anak-anak usia sekolah dasar dan SMP juga merasakan hal yang sama. kurus diejek, tinggi diejek, culun juga diejek.
Jadi anggap saja ini bagian dari momentum. Itu adalah bagian dari fase hidup. Bullying adalah Proses saya mendewasakan diri dan saya pernah beranggapan itu adalah sebuah rezeki bagi saya untuk dapat memiliki teman-teman yang berarti. Untung saja kata-kata mereka (pembully) tidak sampai menyakitkan hati dan tidak terbawa sampai sekarang.